SUKA JADI BERITA, EDISI 03 / 21-22 JANUARI 2017

HARI PEKAN DOA SEDUNIA       download

             Gereja Katolik menetapkan tanggal 18 – 25 Januari 2017 menjadi Pekan Doa      Sedunia. Pekan Doa Sedunia tahun ini memiliki dua tema. Pertama, ajakan pada Gereja-Gereja Kristen untuk berdoa dan berjuang bersama demi persatuan umat kristiani. Kedua, ajakan untuk bersatu menghadapi dan mengatasi penderitaan umat manusia. Dua tanggung jawab ini sangat erat berhubungan satu sama lain. Keduanya berhubungan dengan penyembuhan Tubuh Kristus (Gereja/umat) yang “sakit” karena perpecahan dan penderitaan oleh berbagai sebab.

Oleh sebab itu teks yang dipilih dalam rangka Pekan Doa Sedunia 2017 adalah Injil Markus 7:31-37, tentang penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus: Ia menjadikan yang tuli mendengar, yang bisu berkata-kata (ay.37). Tema Persatuan dan Keprihatinan yang sama untuk menanggapi penderitaan sesama adalah cara Gereja untuk mengajak seluruh umat untuk bergerak bersama melalui usaha berdoa demi persatuan di antara umat Kristiani dan berinisiatif untuk menjawab kekurangan dan penderitaan umat manusia.

Roh yang sama menjadikan kita saudara dan saudari dalam Kristus dan menguatkan kita untuk menyentuh kebutuhan sesama manusia yang berkekurangan.Gereja memahami bahwa setiap upaya mengurangi penderitaan akan menampakkan   persatuan di antara kita, dan setiap langkah persatuan akan menyembuhkan dan menguatkan seluruh Tubuh Krsitus.

Melalui Hari Pekan Doa Sedunia, kita diajak untuk menengadah ke atas, sekaligus mengulurkan tangan pada sesama. Doa adalah mendengar kehendak Tuhan. Pertolongan, belas kasih pada sesama yang menderita adalah cara kita memperdengarkan Tuhan     dalam hidup yang nyata setelah kita mendengar Tuhan. Tugas orang beriman adalah mendegar Tuhan dan memperdengarkan Tuhan. Dalam Injil Markus 7:31-37, ketika Yesus melakukan penyembuhan, Yesus menengadah ke langit, dan meletakkan tangannya atas si sakit. Yesus mengarahkan hati dan pikiran pada Bapa dan mengulurkan tangan pada sesama yang menderita.

pst-sangker

          

  Pst. Sangker Sihotang, OSC

 

SUKA JADI BERITA , EDISI 02 / 14-15 JANUARI 2017

MENJADI MANUSIA YANG BAHAGIA   download

Alih bahasa oleh Rm. Ignatius Ismartono, SJ

“Engkau mungkin memiliki kekurangan, merasa gelisah dan kadangkala hidup tak tenteram, namun jangan lupa hidupmu adalah sebuah proyek terbesar di dunia ini. Hanya engkau yang sanggup menjaga agar tidak merosot. Ada banyak orang membutuhkanmu, mengagumimu dan mencintaimu.

         Aku ingin mengingatkanmu bahwa menjadi bahagia bukan berarti memiliki langit tanpa badai, atau jalan tanpa musibah, atau bekerja tanpa merasa letih, ataupun hubungan tanpa kekecewaan.

Menjadi bahagia adalah mencari kekuatan untuk memaafkan, mencari harapan dalam perjuangan, mencari rasa aman di saat ketakutan, mencari kasih di saat perselisihan.

         Menjadi bahagia bukan hanya menyimpan senyum, tetapi juga mengolah kesedihan. Bukan hanya mengenang kejayaan, melainkan juga belajar dari kegagalan. Bukan hanya bergembira    karena menerima tepuk tangan meriah, tetapi juga bergembira meskipun tak ternama. Menjadi bahagia adalah mengakui bahwa hidup ini berharga, meskipun banyak tantangan, salah paham dan saat-saat krisis.

         Menjadi bahagia bukanlah sebuah takdir, yang tak terelakkan, melainkan sebuah kemenangan bagi mereka yang mampu menyongsongnya dengan menjadi diri sendiri. Menjadi bahagia berarti berhenti memandang diri sebagai korban dari berbagai masalah, melainkan menjadi pelaku dalam sejarah itu sendiri. Bukan hanya menyeberangi padang gurun yang berada diluar diri kita, tapi lebih dari pada itu, mampu mencari mata air dalam kekeringan batin kita.

         Menjadi bahagia adalah mengucap syukur setiap pagi atas mukjizat kehidupan. Menjadi bahagia bukan merasa takut atas perasaan kita. Melainkan bagaimana membawa diri kita. Untuk menanggungnya dengan berani ketika diri kita ditolak. Untuk memiliki rasa mantap ketika dikritik, meskipun kritik itu tidak adil.

         Dengan mencium anak-anak, merawat orang tua, menciptakan saat-saat indah bersama sahabat-sahabat, meskipun mereka pernah menyakiti kita. Menjadi bahagia berarti membiarkan hidup anak yang bebas, bahagia dan sederhana yang ada dalam diri kita; memiliki kedewasaan untuk mengaku “Saya Salah”, & memiliki keberanian untuk berkata “Maafkan Saya” …

         Memiliki kepekaan untuk mengutarakan “Aku membutuhkan kamu” ; memiliki kemampuan untuk berkata “Aku… Dengan demikian hidupmu menjadi sebuah taman yang penuh dengan    kesempatan untuk menjadi bahagia. Di musim semi-mu, jadilah pecinta keriangan. Di musim dingin-mu, jadilah seorang sahabat kebijaksanaan.

         Dan ketika engkau melakukan kesalahan, mulailah lagi dari awal. Dengan demikian engkau akan lebih bersemangat dalam menjalankan kehidupan. Dan engkau akan mengerti bahwa kebahagiaan bukan berarti memiliki kehidupan yang sempurna, melainkan menggunakan air mata untuk menyirami toleransi, menggunakan kehilangan untuk lebih memantapkan kesabaran, kegagalan untuk mengukir ketenangan hati, penderitaan untuk dijadikan landasan kenikmatan, kesulitan   untuk membuka jendela kecerdasan.

        Jangan menyerah… Jangan berhenti mengasihi orang orang yang engkau cintai….. Jangan menyerah untuk menjadi bahagia karena kehidupan adalah sebuah pertunjukan yang menakjubkan. Dan engkau adalah seorang manusia yang luar biasa!”

Sumber: Homili Paus Fransiskus

 

Sukajadi Berita 7/8 Januari 2017

Tahun Baru, Visi Baru

Download

Selamat tahun baru 2017. Semoga kita yang berada di Paroki St. Laurentius, Sukajadi ini mempunyai pengalaman luar biasa: senang-sedih-tragedi-kebahagiaan, tapi itulah kenyataan hidup.  Sepertinya dalam berbagai hal mudah untuk bilang seperti itu, karena kita mungkin tidak mengalaminya rupa-rupanya kita diminta untuk realistis. Tahun Baru ini sudah seharusnya mendorong siapapun, anak-anak, remaja, dewasa, orang tua termasuk biarawan biarawati untuk memulai diri dengan sebuah resolusi.  Setiap orang punya targetnya sendiri.  Oleh karenanya, di tahun yang baru ini harus ada harapan yang baru untuk hidup lebih baik lagi. Ada tujuan-tujuan mulia yang ingin dicapai supaya hidup lebih bermakna. Lalu bagaimana dengan kita sebagai orang Katolik yang percaya? Seringkali di awal tahun kita membuat resolusi yang baru, sebuah tujuan yang baik, namun sudahkah tujuan tersebut berpusat pada Kristus atau justru masih berpusat pada diri sendiri? Tahun 2017 fokus pastoral kita yaitu Keluarga yang bersekutu dalam Komunitas Basis Gerejani. Umat basis terutama adalah keluarga-keluarga di lingkungan. Setiap orang yang dibaptis dipanggil untuk bersekutu dengan teman, sahabat dan saudara-saudarinya di lingkungan-lingkungan. Bukan untuk mengejar kekayaan, kehormatan, popularitas, maupun kebahagiaan yang semu. Setiap dari kita secara pribadi haruslah mengejar panggilan Allah di dalam Kristus Yesus. Panggilan Allah bukanlah suatu beban tanggung jawab lagi yang menyusahkan, melainkan sebuah hadiah jika kita menanggapinya. Sebuah keistimewaan karena boleh bekerja melayani Allah yang hidup. Setiap orang Katolik tidak hanya dipanggil untuk percaya saja, melainkan juga untuk melakukan pelayanan dalam Kerajaan Allah. Pelayanan seperti apa? Nah, itulah tugas setiap orang untuk mencari dan mempergumulkan. Apa yang sesungguhnya Tuhan inginkan dengan hidupku? Bagaimana aku menjawab panggilan Tuhan dalam melayani kepentingan Kerajaan-Nya? Bagaimana kita bisa mengetahui dan menemukan panggilan hidup kita di dalam Kristus?

Sambil memaknai resolusi diri marilah kita juga belajar Pertama, melupakan apa yang telah terjadi di belakangku. Segala kepahitan, kemarahan, sakit hati, bahkan kebanggaan di tahun 2016 harus ditinggalkan. Kalau terus menoleh ke belakang, sulit bagi kita untuk terus maju. Kedua, mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku. Berfokuslah dengan maksimal dan sepenuh hati.  Jangan biarkan apapun atau siapapun membuatmu menyimpang dari tujuan. Ketiga, seriuslah ke tujuan hidup kita. Berusaha lebih keras dan kurangi kesenangan kita.  Semua juga penting tapi harus jujur untuk lebih mementingkan panggilan surgawi di dalam Kristus Yesus. Apa panggilanmu dan bagaimana mencapainya? Pergumulkan dengan tekun di dalam doa dan bersekutulah dengan teman, sahabat, saudara-saudari seiman kita! Selamat berjuang di tahun baru ini. Tuhan memberkati.

pst-tono-osc

          Pst. S. Budi Saptono,OSC

Mengapa Palungan menjadi sentral perayaan Natal?

This is the post excerpt.

Malam Natal adalah pintu pembuka kita merayakan pesta iman dalam masa raya yang paling meriah bagi setiap umat Katolik. Saat itu kita merayakan menjelang dan esokya adalah hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat dunia. Meski demikian secara langsung hari dan tanggal tepatnya di dalam Alkitab tidak pernah disebutkan. Namun kita sebagai orang Katolik meyakini berdasarkan ajaran, tradisi dan keyakinan-keyakinan Bapa Gereja. Yang paling menarik dalam malam Natal dan Natal adalah fokus kita pada sudut Palungan Natal.

Palungan Natal adalah lambang luhur dari kesederhanaan, kesunyian, ketiadaan bahkan pengorbanan. Sebuah permenungan luar biasa Natal yang selalu membawa misi makna hidup sepanjang hidup manusia. Apalagi saat ini bangsa kita sedang digoyang dengan sebuah tragedi intoleransi, riak-riak gelora kebersamaan bagai tsunami dan relasi makin kurang kondusif dalam hidup ketakwaaannya.

Renungan Palungan Natal sepertinya menjadi topik yang harus dimunculkan kembali karena kehadiran Yesus kurang dimaknai mendalam. Tidak semua merasakan sukacita seperti kita sungguh menghayati bahwa Sang Juru Selamat itu lahir untuk kehidupan kedamaian kita. Malam Natal yang sakral oleh sebagian orang justru diusik dengan suatu peristiwa mengkhawatirkan. Sayangnya juga bahwa tidak sedikit di antara kita kurang menempatkannya sebagai peristiwa yang mendatangkan sukacita. Memang dirayakan tetapi sepertinya hanya dirayakan sebagai kegembiraan sesaat. Perselisihan, kebencian dan permusuhan masih muncul hanya karena mempersoalkan tidakrapihnya susunan acara, kurang berkesan bahkan “garingnya” perayaan dll nya. Sungguh-sungguh menyedihkan.

Semoga perayaan Natal tetapi mampu menemukan kembali Palungan Natal yang hilang selama ini. Lakukan pembaruan yang akan membuat semua orang benar-benar merasakan kehadiran Yesus didalam kehidupan kita. Percayalah Natal bukan soal kemeriahan, makanan, kemewahan dan decak kagum orang, melainkan bagaimana kehadiran Yesus mengerjakan sebuah perubahan penting didalam hati setiap orang. Selamat merayakan Natal dan sebentar beberapa hari kita menyambut tahun yang baru. Tuhan Yesus memberkati…

                        Pst. S. Budi Saptono,OSC