SUKA JADI BERITA Edisi 28 / 14 Juli – 15 Juli 2018

Utusan: Kuasa atas Roh Jahat dan Tongkat

SJB edisi 28  (14/15 July 2018)  DOWNLOAD

” Yesus memanggil kedua belas murid dan mengutus mereka berdua – dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh – roh jahat….hanya boleh membawa tongkat…” (Mat 6:7-8). Keterlibatan para Rasul dalam Karya Pastoral Yesus diawali dengan pemanggilan. Para Rasul itu dipanggil dan para Rasul mendengar, serta menurutiNya. Inisiatif datang dari Allah dan manusia menanggapi. Setelah dipanggil, diutus. Mereka diutus dengan diberi bekal, yakni kuasa atas roh-roh jahat dan hanya boleh membawa tongkat.

Kuasa atas roh-roh jahat

Kisah manusia pertama jatuh ke dalam dosa dalam kitab Kejadian 3:1-6, ular mempengaruhi Hawa dan Adam untuk melanggar perjanjian dengan Allah. Ular adalah simbol setan / roh jahat. Roh jahat mengajak manusia untuk melawan perintah Allah. Setiap perlawanan bertujuan untuk memperlemah kekuasaan pihak yang dilawan dan menggantikannya dengan kekuasaan yang lain. Kejatuhan manusia ke dalam dosa ketika manusia mau beralih dari kuasa / pengaruh Allah ke kuasa / pengaruh yang bukan Allah. Seperti kita tahu, pada awal mulanya manusia hidup sejahtera lahir dan batin di taman firdaus. Namun setelah peristiwa Hawa dan Adam menuruti ular / roh jahat, hidup mereka menjadi menderita dan susah. Akibat dosa adalah susah dan derita.

Para Rasul dilibatkan oleh Yesus untuk mewartakan pertobatan supaya manusia tidak hidup dalam dosa; agar manusia terbebas dari penderitaan. Pemberian Kuasa atas roh-roh jahat menjadi tanda bahwa para rasul adalah utusan Allah yang tugasnya untuk membebaskan manusia dari kekuasaan/pengaruh/cengkraman segala hal yang berlawanan dengan kuasa Allah.

Hanya membawa tongkat

Tongkat adalah alat bantu yang biasa digunakan oleh manusia dalam berbagai kebutuhan. Tongkat dipakai untuk alat bantu dalam berjalan, alat bantu untuk melindungi diri, alat bantu untuk menunjuk arah. Tetapi tongkat juga mempunyai makna simbolis, yakni kuasa/tahta/pimpinan. Para gembala ternak selalu membawa tongkat yang digunakan untuk melindungi kawanan dari binatang buas, alat untuk mengumpulkan kawan supaya tidak terceraiberai dan menunjukkan arah menuju padang rumput. Dengan demikian, ketika para rasul diutus dan hanya boleh membawa tongkat mau menekankan bahwa sebagai utusan mereka bertuga untuk meminpin para kawanan untuk tetap bersatu dalam persekutuan dan berjalan bersama menuju keselamatan. Kuasa yang diberikan kepada para rasul bukan untuk menindas tetapi untuk melindungi dan memimpin kepada keselamatan.

Setiap orang yang dibaptis telah dipanggil dan diutus seperti para rasul: melawan kuasa jahat, mewartakan pertobatan dan membangun persekutuuan sebagai anak – anak Alla

pst-sangker

Pst. Sangker Sihotang, OSC

Advertisements

SUKA JADI BERITA Edisi 24 / 16 – 17 Juni 2018

DOWNLOAD SJB edisi 24, 16 – 17 Juni 2018 disisni

MUDIK

              Seperti biasa, setiap kali Idul Fitri tiba, kebanyakan penduduk Indonesia yang merantau pulang ke kampung tempat kelahiran. Pesona kampung itu memikat dan memanggil kita untuk pulang. Sulitnya perjalanan yang melelahkan tidak menjadi soal. Minimnya fasilitas di kampung halaman bukan jadi hambatan. Berada di rumah si Mbah yang sederhana, penerangan yang minim, tidak terdapat AC, tak ada pizza, mandi di sungai, dianggap sebagai “kemewahan” luar biasa.

Mudik bukan saat menikmati kemewahan. Mudik bukan saat hidup dalam gemerlap dunia. Justru kebalikannya. Tetapi mengapa MUDIK itu memikat dan dirindukan? Pertama, kampung halaman adalah masa lalu yang pantas dikenang, jangan dilupakan. Masa lalu itu mungkin berat, serba kekurangan, penuh perjuangan. Namun, orang bersyukur, bahwa masa sekarang tetap lebih baik. Kedua, hidup sekarang adalah buah perjuangan hidup sejak dari kampung halaman. Kampung halaman itu memberi energi untuk berjuang, kampung itu membekali. Maka, ketika orang mudik, ia melihat kembali perjalanan hidupnya, mensyukuri segala pengalaman manis dan pahit, mensyukuri peran dan pertolongan banyak pihak dalam hidupnya. Kembali ke kampung halaman mengingatkan kita kembali akan rahmat hidup yang kita terima.

Orang yang sangat berpola pikir untung-rugi, enak atau tidak enak, nyaman atau sulit , mungkin akan melihat mudik itu sebagai pemborosan, menyusahkan hidup, tak menguntungkan, dll. Tetapi bagi para pemudik, mudik itu adalah saat kembali ke masa lalu sejenak dan mensyukuri masa sekarang. Rasa syukur itu terwujud dalam perjumpaan dengan orang tua, keluarga besar di kampung, teman sekolah, tetangga, dll. Berjumpa dalam keramahan dan keakraban, berbagai dalam berbagai bentuk (uang,  barang). Berkumpul dan berdoa bersama juga menjadi hal penting.

Mudik bagi banyak orang adalah jalan untuk mengingatkan supaya hidup itu jangan pongah dengan kesuksesan. Orang diingatkan akan asal usulnya, akan perjuangan orangtuanya, akan kehangatan pertemanan dan persaudaraan sekampungnya, akan merjuangan jatuh bangun, akan doa-doa keluarga dan tetangga saat ia meninggalakan kampung menuju ke kota, akan rahmat Tuhan yang diterimanya saat ini.

Mudik adalah saat iman, harapan, persaudaraan dan kasih dirawat agar jangan sampai padam. Mudik adalah saat benih hidup yang telah tumbuh berbuah disyukuri dan dirawat.

pst-sangker

Pst. Sangker Sihotang, OSC

 

SJB edisi 47, 25-26 November 2017

Tahun Liturgi Gereja Katolik.

Minggu depan kita akan memasuki Minggu Advent, dan seminggu sebelum Advent,
Gereja menutup tahun liturginya dengan perayaan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus
Raja Semesta Alam. Jika kita mencermati dan mendengarkan bacaan sabda Tuhan dalam
perayaan Ekaristi, termasuk misa harian, dalam kurun waktu 3 tahun setelah melewati
tahun A, B, dan C liturgi gereja, kita akan ‘selesai’ membaca hampir seluruh isi Kitab Suci.
Jadi memang bacaan liturgi disusun sedemikian rupa, dikemas dalam lingkaran Liturgi
yang utuh yang memaparkan sejarah keselamatan dan penyelamatan manusia sejak
kisah penciptaan dalam Kejadian sampai Wahyu. Bukan hanya itu, dalam lingkaran Liturgi
kita juga secara menyeluruh dipaparkan Kisah penebusan Kristus sejak kedatangan
Yohanes yang mempersiapkan kelahiran Juruselamat sampai wafat dan kebangkitanNya.
Tidak ada perayaan ‘liturgi’ selengkap Liturgi dalam Gereja Katolik yang merangkum tiga
masa sekaligus: Masa lampau – Wafat Kristus kita maklumkan; Masa kini
KebangkitanNya kita muliakan; Masa depan – KedatanganNya kita rindukan.
Kalender bacaan Liturgi dibuat sedemikian untuk setidaknya kita memperoleh
kesempatan “mendengarkan sabda” (bukan membaca Kitab Suci) saat setiap perayaan
Ekaristi di gereja secara teratur dan lengkap sepanjang tiga tahun liturgi. Bukan hanya itu,
sebenarnya bersumber dari bacaan-bacaan Liturgi Ekaristi, juga mengalir dalam doa-doa
harian dan bacaan rohani harian para biarawan dan biarawati yang saling bersinergi
dengan liturgi sepanjang tahun, menjadikan hari-hari dan jam-jam doa mereka semakin
indah dan teratur dalam saling keterkaitan satu sama lain….
Makanya….rajin-rajinlah ke Gereja, untuk mendengarkan sabda Tuhan, sehingga
setidaknya pernah minimal 1 kali tamat membaca Kitab Suci nya. Tentu yang sisanya
harus dilengkapi sendiri dengan membaca secara rutin di rumah secara pribadi.
Setelah tiga tahun berjalan melewati tahun A, B, dan C; bacaan Liturgi akan kembali
mengulang lagi dari awal dengan penyesuaian peringatan, pesta dan Hari raya Orang
Kudus dan Hari raya Gereja yang dirayakan menurut tanggal dan hari yang berbeda.
Walaupun mengulang, lihatlah kemudian bahwa pembahasan dan refleksi tentang Kitab
Suci dalam Liturgi Gereja selalu baru dan tidak pernah mengulang….itulah kekayaan
Sabda Allah yang nyata, yang tidak pernah usang dan selalu baru setiap hari sepanjang
masa. Selamat untuk menjadi rajin yaaa.

Pst. S. Budi Saptono,OSC