SUKA JADI BERITA Edisi 24 / 16 – 17 Juni 2018

DOWNLOAD SJB edisi 24, 16 – 17 Juni 2018 disisni

MUDIK

              Seperti biasa, setiap kali Idul Fitri tiba, kebanyakan penduduk Indonesia yang merantau pulang ke kampung tempat kelahiran. Pesona kampung itu memikat dan memanggil kita untuk pulang. Sulitnya perjalanan yang melelahkan tidak menjadi soal. Minimnya fasilitas di kampung halaman bukan jadi hambatan. Berada di rumah si Mbah yang sederhana, penerangan yang minim, tidak terdapat AC, tak ada pizza, mandi di sungai, dianggap sebagai “kemewahan” luar biasa.

Mudik bukan saat menikmati kemewahan. Mudik bukan saat hidup dalam gemerlap dunia. Justru kebalikannya. Tetapi mengapa MUDIK itu memikat dan dirindukan? Pertama, kampung halaman adalah masa lalu yang pantas dikenang, jangan dilupakan. Masa lalu itu mungkin berat, serba kekurangan, penuh perjuangan. Namun, orang bersyukur, bahwa masa sekarang tetap lebih baik. Kedua, hidup sekarang adalah buah perjuangan hidup sejak dari kampung halaman. Kampung halaman itu memberi energi untuk berjuang, kampung itu membekali. Maka, ketika orang mudik, ia melihat kembali perjalanan hidupnya, mensyukuri segala pengalaman manis dan pahit, mensyukuri peran dan pertolongan banyak pihak dalam hidupnya. Kembali ke kampung halaman mengingatkan kita kembali akan rahmat hidup yang kita terima.

Orang yang sangat berpola pikir untung-rugi, enak atau tidak enak, nyaman atau sulit , mungkin akan melihat mudik itu sebagai pemborosan, menyusahkan hidup, tak menguntungkan, dll. Tetapi bagi para pemudik, mudik itu adalah saat kembali ke masa lalu sejenak dan mensyukuri masa sekarang. Rasa syukur itu terwujud dalam perjumpaan dengan orang tua, keluarga besar di kampung, teman sekolah, tetangga, dll. Berjumpa dalam keramahan dan keakraban, berbagai dalam berbagai bentuk (uang,  barang). Berkumpul dan berdoa bersama juga menjadi hal penting.

Mudik bagi banyak orang adalah jalan untuk mengingatkan supaya hidup itu jangan pongah dengan kesuksesan. Orang diingatkan akan asal usulnya, akan perjuangan orangtuanya, akan kehangatan pertemanan dan persaudaraan sekampungnya, akan merjuangan jatuh bangun, akan doa-doa keluarga dan tetangga saat ia meninggalakan kampung menuju ke kota, akan rahmat Tuhan yang diterimanya saat ini.

Mudik adalah saat iman, harapan, persaudaraan dan kasih dirawat agar jangan sampai padam. Mudik adalah saat benih hidup yang telah tumbuh berbuah disyukuri dan dirawat.

pst-sangker

Pst. Sangker Sihotang, OSC

 

Advertisements

Author: SUKAJADI BERITA

Media Informasi Mingguan Paroki St. Laurentius Bandung, jln. Sukajadi no 223 bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s